Obat HIV/AIDS tidak Mampu Mengatasi Coronavirus

Dokter, peneliti, dan pejabat kesehatan yang sedang berjuang mencari perawatan untuk pasien yang terinfeksi virus korona mungkin harus memupus salah satu harapan mereka

Sebelumnya, para peneliti berharap bahwa obat antivirus yang digunakan untuk mengobati HIV juga dapat bekerja melawan virus corona, yang dikenal sebagai SARS-CoV-2 .  Baik HIV dan coronavirus membutuhkan enzim yang disebut protease untuk membuat virus menular. Obat-obatan tersebut cara kerjanya dengan  menghambat kerja protease.

Tapi, pada sebuah uji coba terhadap 199 orang yang dilakukan secara acak untuk mendapatkan obat-obatan tersebut ditambah perawatan standar – termasuk oksigen tambahan, antibiotik untuk tindak lanjut infeksi bakteri dan tindakan lain yang diperlukan – atau perawatan standar saja,  telah mengikis harapan tersebut. Uji coba dilakukan di Beijinguntuk  menguji obat HIV tersebut, yang disebut lopinavir dan ritonavir, pada orang yang sakit parah akibat pneumonia yang disebabkan oleh COVID-19.

Membandingkan hasil dari 94 orang yang mendapat obat dengan hasil yang didapat dari 100 pasien yang menerima perawatan standar,  tidak menunjukkan manfaat dari penggunaan obat-obatan tersebut, peneliti melaporkan 18 Maret di New England Journal of Medicine.

Obat-obatan tersebut memperpendek waktu yang dibutuhkan untuk melihat peningkatan klinis dari 16 hari pada kelompok perawatan standar menjadi 15 hari pada kelompok perawatan dengan oabtan-oabtan dan perawatan. Tetapi waktu perbaikan yang sedikit lebih pendek terjadi hanya untuk orang yang mendapatkan obat dalam 12 hari setelah gejala muncul. Temuan itu mungkin menunjukkan bahwa orang-orang dalam uji coba mungkin sudah terlalu sakit untuk mendapatkan pengaruh atau  manfaat dari penggunaan obat-obatan tersebut dan terdapat kemungkinan jika  pengobatan yang lebih awal dilakukan pada infeksi, obat-oabatan dapat bekerja lebih baik, menurut peneliti. Namun, kemungkinan itu belum diuji.

Obat-obatan HIV ternyata tidak menghentikan replikasi virus yang diukur dengan menguji RNA, materi genetik virus. Para peneliti tidak tahu apakah orang yang mendapatkan obat itu menghasilkan lebih sedikit virus menular.

Diare berat atau gejala gastrointestinal lainnya menyebabkan 13 pasien dikeluarkan dari obat HIV.

Sedikit lebih sedikit orang yang memakai obat HIV meninggal daripada dalam kelompok perawatan standar, akan tetapi hasilnya sulit untuk ditafsirkan karena sejumlah kecil orang dalam ujicoba dan sebagian kecil dari kelompok yang mendapatkan  perawatan standar tampaknya telah sakit sejak awal ujicoba, demikian tertulis dalam editorial New England Journal of Medicine tersebut

Sebelumnya, dalam liputan tentang  wabah coronavirus novel 2019, Obat lain yang sedang diuji terhadap coronavirus termasuk remdesivir, obat yang menghambat replikasi RNA dan obat antimalaria, kloroquin. Efek samping chloroquine termasuk masalah jantung, gula darah rendah, penglihatan kabur, kelemahan otot dan pusing. Versi yang kurang toksik dari klorokuin yang disebut hydroxychloroquine mencegah SARS-CoV-2 agar tidak mudah menginfeksi sel monyet dalam tes laboratorium, para peneliti melaporkan 18 Maret di Cell Discovery.

Presiden Donald Trump mengumumkan 19 Maret dalam konferensi pers Gedung Putih bahwa Badang Administrasi Makanan dan Obat-obatan A.S (FDA), akan membuat hidroksi klorokuin tersedia untuk merawat pasien yang terkategori harus segera ditangani. Karena obat ini disetujui untuk penggunaan lain, dokter mungkin dapat meresepkannya untuk penggunaan mendesak,  yang memungkinkan dokter untuk mengobati orang dengan penyakit atau kondisi yang mengancam jiwa dengan obat eksperimental ketika tidak ada pilihan lain yang tersedia. Tetapi obat belum terbukti bekerja melawan virus dalam uji coba orang.

Sumber : https://www.sciencenews.org/article/coronavirus-pandemic-hiv-drugs-do-not-work-treatment-clinical-trial

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *